Sabtu, 04 April 2009

Faedah membaca Sholawat (3)

g. Alamat Husnul Khotimah (mati dalam kedaan beriman) :
Sayyid Mahmud Al-Kurdi dalam kitab ‘Al-Baqiyatus-sholihat » mengatakan :
Para ulama bersepakat bahwa memperbanyak bacaan sholawat dan salam kepada Nabi SAW sebagian dari tanda-tandanya akan diberi husnul-khotimah (bagi pembacanya)” Mudah-mudahan kita dipanggil oleh ALLOH SWT dalam keadaan husnul khotimah. Amiin
Syekh Al-‘Adawi meriwayatkan kata seorang ‘Arif Billah :
“Sesungguhnya orang yang keadaannya senantiasa memperbanyak bacaan sholawat kepada Nabie dia akan memperoleh kemuliaan yang sangat besar yaitu ketika dia sakaratil maut akan dihadiri (ditunggui) oleh Beliau SAW. (Diterangkan dalam kitab Sa’adatud Daroini 466)
h. Menghilangkan kegelisahan hati dan kesulitan / kesusahan hidup
“Barangsiapa mengalami kesulitan sesuatu, maka perbanyaklah baca sholawat kepadaku. Sesungguh-nya sebab bacaan sholawat dia akan dilepaskan dari segala kesulitan dan dibukakan jalan keluar dari segala kesusahan”. (HR Tobroni)
i. Akan dijadikan cahaya di hari qiyamat :
Bersabda Rosululloh SAW:“Hiasilah ruangan tempat pertemuanmu dengan bacaan sholawat kepadaku. Karena sesungguhnya bacaan sholawatmu kepadaku itu akan menjadi cahaya bagimu di hari kiamat”. (H.R. Ad-Dailami dari Ibnu Umar).
j. Menjadikan sebab jernihnya hati dan wushul / sadar kepada ALLOH tanpa Guru Mursyid Dalam kitab Sa’adatud Daroini hal. 468 disebutkan kata Asy-Syekh Hasan Al-‘Adawi dari seorang ahli haqiqat (al-‘Arif Billah):

31

Sesungguhnya bacaan sholawat kepada Nabi SAW itu [dapat] menerangi hati dan mewushulkannya tanpa Guru (Mursyid) kepada ALLOH Yang Maha Mengeta-hui segala yang ghaib.



“Secara global, membaca sholawat kepada Nabi SAW itu (dapat)

mewushulkan kepada ALLOH tanpa Guru. Karena, sesungguhnya Guru dan

Sanad di dalam sholawat itu adalah Shohibus-Sholawat sendiri (yakni

Rosululloh SAW) karena sholawat itu diperlihatkan kepada Beliau SAW dan

ALLOH memberi sholawat kepada si pembacanya. Berbeda dengan dzikir-

dzikir selain sholawat. Maka tidak boleh tidak harus ada Guru (Mursyid)

yang `Arif Billah. Kalau tidak, maka syetan akan masuk ke dalam dzikir itu

dan orang yang berdzikir tidak dapat memperoleh manfaat dari pada

dzikirnya.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar